Marie Jean Pierre Flourens (1794–1867): seorang ilmuwan luar biasa pada Masanya

MABBI – Marie Jean Pierre Flourens adalah seorang dokter Perancis, terkenal karena berbagai penemuan penting yang berkaitan dengan sistem saraf, lokalisasi otak dan fungsi otak. Ia dikenal karena studinya tentang fisiologi otak. Dia adalah salah satu pelopor dalam penggunaan metode eksperimental dalam neuroanatomi.
Ia dilahirkan pada tanggal 15 April 1794, di Maureilhan, Perancis. Ia menerima gelar kedokterannya dari Universitas Montpellier pada tahun 1809. Ia kemudian pergi ke Paris dan bekerja dengan ahli botani Agustin de Condelle (1779–1841) dan ahli paleontologi Georges Cuvier (1769–1832), dan kemudian tertarik pada studi neurofisiologi. Pada tahun 1833, Flourens menjadi Profesor Anatomi di College de France. Pada tahun 1838, ia dikembalikan sebagai wakil komune Béziers. Dia terpilih menjadi anggota Akademi Prancis pada tahun 1840, lebih memilih Victor Hugo (1802–1885), dan pada tahun 1845 dia diberi légion d’honneur. Dia menarik diri sepenuhnya dari kehidupan politik pada tahun 1848 dan menerima jabatan Profesor Sejarah Alam di College de France pada tahun 1855.
Pada abad ke-19, penelitian penting mengenai gangguan vestibular dan otologis sedang dilakukan. Flourens melakukan pengamatan eksperimental pertama terhadap fungsi labirin vestibular dengan cara memusnahkan setiap saluran setengah lingkaran pada merpati. Setelah saluran setengah lingkaran dipotong, ia menemukan gerakan kepala yang tidak wajar pada merpati. Pendengaran tidak terpengaruh ketika ia memotong serabut saraf ke organ-organ ini tetapi terhenti ketika ia memotong papilla basilar. Flourens mengusulkan bahwa saluran setengah lingkaran terlibat dalam pemeliharaan postur dan keseimbangan. Dia berhipotesis bahwa lesi pada kanalis semisirkularis bertanggung jawab atas gejala vestibular yang telah dijelaskan sebelumnya.
Flourens diterima sebagai pionir teori modern tentang fungsi otak. Menurut teori ini, otak hanya bertindak sebagai entitas fungsional meskipun fungsi tertentu dikendalikan oleh bagian otak tertentu. Flourens mencapai teori ini dengan menggunakan metode ablasi dan stimulasi serta banyak penyelidikan eksperimental pada spesies mamalia, terutama kelinci dan merpati. Dengan menghilangkan otak kecil, koordinasi otot dan rasa keseimbangan hewan menghilang. Ia menerima bahwa korteks serebral, otak kecil, dan batang otak berfungsi secara global sebagai satu kesatuan, ekuipotensial, dan berhubungan dengan setiap bagian lainnya. Selain itu, semua fungsi kognitif pada merpati terganggu ketika belahan otaknya diambil.4 Flourens mengembangkan karya Julien‐Cesar Legallois (1770–1814) tentang fungsi kontrol pernapasan medula oblongata. Ia melaporkan bahwa medula bertanggung jawab atas fungsi vital, seperti sirkulasi dan pernapasan. Ia mengamati bahwa kerusakan medula oblongata mengakibatkan kematian hewan tersebut.
Frenologi dikembangkan oleh Franz Joseph Gall (1758–1825). Prinsipnya adalah otak adalah organ pikiran, dan terdiri dari unit-unit yang berfungsi independen. Area-area ini dianggap bertanggung jawab atas bakat intelektual dan karakter yang berbeda, dan tulang tengkorak mencerminkan perbedaan-perbedaan ini. Namun Flourens menolak teori ini dan menantang pandangan lokalisasionis Gall. Teori dasar frenologi, bahwa kepribadian ditentukan oleh bentuk tengkorak, kini dianggap tidak benar.
Terlepas dari studi neurofisiologisnya, Flourens menjelaskan sifat anestesi kloroform dan etil klorida. Flourens adalah mentor bagi murid-muridnya. Edmé Félix Alfred Vulpian (1826–1887), Gabriel Gustav Valentin (1810–1883) dan banyak lainnya belajar di bawah pengawasannya dan memberikan kontribusi penting pada ilmu saraf. Flourens meninggal di Montgeron, dekat Paris, pada tahun 1867 dan meninggalkan banyak artikel dan buku.
Setelah menerima gelar kedokterannya dari Universitas Montpellier, Flourens pergi ke Paris, di mana naturalis Prancis terkenal Georges Cuvier menjadi pelindungnya. Di bawah sponsornya, Flourens melakukan serangkaian eksperimen (1814–22) untuk menentukan perubahan fisiologis pada merpati setelah pengangkatan bagian tertentu dari otaknya. Ia menemukan bahwa pengangkatan belahan otak, di bagian depan otak, menghancurkan kemauan, penilaian, dan semua indra persepsi; bahwa pengangkatan otak kecil, di dasar otak, menghancurkan koordinasi otot hewan dan keseimbangannya; dan pengangkatan medula oblongata, di bagian belakang otak, mengakibatkan kematian. Eksperimen ini membawanya pada kesimpulan bahwa belahan otak bertanggung jawab atas kemampuan psikis dan intelektual yang lebih tinggi, bahwa otak kecil mengatur semua gerakan, dan medula mengontrol fungsi vital, terutama pernapasan. Flourens juga orang pertama yang menyadari peran saluran setengah lingkaran di telinga bagian dalam dalam menjaga keseimbangan dan koordinasi tubuh.
Flourens menjadi profesor anatomi komparatif di museum Jardin des Plantes pada tahun 1832 dan profesor di Collège de France pada tahun 1855. Ia merangkum studi otaknya dalam Recherches experimentales sur les propriétés et les fonctions du système neuralux dans les animaux vertébrés (1824; “Penelitian Eksperimental tentang Sifat dan Fungsi Sistem Saraf pada Hewan Vertebrata”). (Tri/MABBI)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *