Ekosistem laut Antartika merupakan salah satu ekosistem yang paling belum terjamah di dunia, namun tetap rentan terhadap perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim. Ross Sea, yang mencakup Terra Nova Bay, menjadi perhatian utama dalam penelitian ekologi laut karena perannya dalam mendukung keanekaragaman hayati dan jejaring trofik laut. Fitoplankton dan copepoda merupakan dua kelompok organisme yang memiliki peran penting dalam sistem ini, berkontribusi pada produksi primer dan transfer energi dalam rantai makanan laut. Model distribusi spesies (Species Distribution Model/ SDM) menjadi alat yang semakin digunakan untuk memahami pola distribusi organisme ini serta faktor lingkungan yang memengaruhi keberadaannya.
Pemodelan distribusi spesies memungkinkan para ilmuwan untuk mengidentifikasi pola spasial keberadaan fitoplankton dan copepoda, terutama dalam kondisi lingkungan yang berubah akibat perubahan iklim. Fitoplankton, sebagai produsen utama dalam jejaring trofik, dipengaruhi oleh variabel lingkungan seperti suhu air, salinitas, dan ketersediaan nutrien. Copepoda, yang merupakan mesozooplankton dominan di perairan Antartika, memiliki keterkaitan erat dengan distribusi fitoplankton karena bergantung padanya sebagai sumber makanan.
Studi terbaru yang menggunakan pendekatan pembelajaran mesin untuk memodelkan distribusi fitoplankton dan copepoda di Ross Sea menunjukkan adanya pola heterogenitas spasial yang signifikan. Model distribusi spesies yang diterapkan menunjukkan bahwa berbagai faktor lingkungan, termasuk suhu, kedalaman, dan konsentrasi oksigen terlarut, sangat memengaruhi keberadaan dan kelimpahan kedua kelompok organisme ini. Dalam penelitian yang dilakukan selama ekspedisi Italian National Antarctic Programme (PNRA), data lapangan yang dikumpulkan menunjukkan bahwa enam jenis fitoplankton dan enam spesies copepoda memiliki distribusi yang berbeda-beda tergantung pada faktor lingkungan spesifik yang diukur.
Analisis yang dilakukan dalam studi ini menunjukkan bahwa fitoplankton cenderung lebih melimpah di daerah yang memiliki ketersediaan nutrien tinggi, sementara copepoda memiliki pola distribusi yang berkorelasi dengan ketersediaan fitoplankton sebagai sumber makanan. Paralabidocera antarctica, salah satu spesies copepoda yang diteliti, menunjukkan hubungan erat dengan daerah yang memiliki konsentrasi es laut tinggi, menunjukkan bahwa spesies ini mungkin bergantung pada ekosistem simpagik sebagai habitatnya. Model distribusi spesies juga menunjukkan adanya variasi spasial dalam pola interaksi antara fitoplankton dan copepoda, yang dapat memberikan wawasan lebih lanjut mengenai dinamika jejaring trofik di Ross Sea.
Penerapan model distribusi spesies berbasis pembelajaran mesin dalam studi ini menegaskan pentingnya penggunaan teknologi baru dalam penelitian ekologi laut. Dengan pendekatan ini, dapat diperoleh prediksi yang lebih akurat mengenai pola distribusi organisme laut serta faktor yang mempengaruhinya. Hasil penelitian ini juga memiliki implikasi penting dalam pengelolaan dan konservasi sumber daya laut Antartika, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan eksploitasi sumber daya laut yang semakin meningkat. Dengan memahami pola distribusi dan interaksi antara fitoplankton dan copepoda, strategi konservasi dapat lebih diarahkan untuk melindungi keanekaragaman hayati laut serta menjaga keseimbangan ekosistem di Ross Sea dan Terra Nova Bay.
Sumber:

Leave a Reply