Pemanfaatan eDNA untuk Identifikasi dan Pemantauan Paus Eden di Teluk Dapeng

Environmental DNA (eDNA) telah berkembang sebagai metode inovatif dalam pemantauan keanekaragaman hayati di lingkungan akuatik. Teknologi ini menawarkan pendekatan yang tidak invasif dalam mendeteksi spesies dengan mengekstraksi materi genetik dari sampel air. Penerapan eDNA pada cetacea masih terbatas, tetapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa metode ini dapat menyediakan informasi akurat mengenai keberadaan dan ekologi spesies yang sulit diamati secara langsung.

Penelitian ini menyoroti pemanfaatan eDNA dalam mengidentifikasi spesies dan komposisi makanan paus Eden (Balaenoptera edeni edeni) di Teluk Dapeng, Provinsi Guangdong, China. Paus ini pertama kali terdeteksi pada 29 Juni 2021, dan keberadaannya dikonfirmasi melalui analisis empat sekuens mitokondria (12S rDNA, 16S rDNA, cytochrome c oxidase subunit 1, dan control region) yang diperoleh dari sampel air yang dikumpulkan. Teknik metabarcoding eDNA memungkinkan identifikasi prey species potensial, termasuk sarden (Sardinella lemuru, Sardinella gibbosa, Sardinella jussieui) dan ikan teri (Thryssa dussumieri, Thryssa vitrirostris, Thryssa kammalensis), yang mengindikasikan bahwa paus ini memasuki Teluk Dapeng untuk mencari makan.

Lebih lanjut, analisis distribusi eDNA mengungkapkan bahwa paus Eden telah terdeteksi di perairan Lingding Bay dua bulan sebelum kemunculannya di Teluk Dapeng. Hal ini menunjukkan bahwa eDNA dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini untuk melacak pergerakan megafauna laut. Metode ini menawarkan keunggulan dibandingkan metode konvensional karena lebih efisien, tidak mengganggu ekosistem, dan memungkinkan pemantauan di wilayah di mana metode survei tradisional sulit dilakukan.

Penggunaan eDNA juga memiliki implikasi signifikan dalam konservasi cetacea yang dilindungi secara hukum. Dengan mendeteksi spesies tanpa perlu melakukan kontak langsung, metode ini mengurangi risiko gangguan terhadap populasi yang sensitif. Selain itu, eDNA berpotensi digunakan dalam pemantauan keberlanjutan sumber daya perikanan, yang erat kaitannya dengan rantai makanan cetacea.

Namun, terdapat beberapa tantangan dalam penerapan eDNA, termasuk degradasi cepat materi genetik di lingkungan akuatik dan kemungkinan kontaminasi silang yang dapat memengaruhi hasil analisis. Oleh karena itu, standar metodologi yang ketat diperlukan untuk memastikan validitas hasil. Kombinasi antara pendekatan eDNA dengan teknik pemantauan lainnya, seperti survei akustik dan pengamatan visual, dapat memberikan data yang lebih komprehensif untuk mendukung kebijakan konservasi berbasis sains.

Penelitian ini membuktikan bahwa eDNA dapat menjadi alat yang kuat dalam memahami ekologi dan distribusi cetacea. Dengan pengembangan lebih lanjut, teknologi ini dapat memainkan peran penting dalam pemantauan biodiversitas laut secara global. Implementasi metodologi eDNA di berbagai habitat laut akan membuka peluang baru dalam pengelolaan dan perlindungan spesies yang menghadapi ancaman akibat perubahan lingkungan dan aktivitas manusia.

Sumber:

Zhang, S., Cao, Y., Chen, B., Jiang, P., Fang, L., Li, H., Chen, Z., Xu, S. and Li, M., 2023. Assessing the potential use of environmental DNA for multifaceted genetic monitoring of cetaceans: Example of a wandering whale in a highly disturbed bay area. Ecological Indicators148, p.110125.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *