Transkriptom Otak Mengungkap Transisi Planktivori ke Pisvivori pada Pikeperch

Transisi pola makan dari planktivori menuju pisvivori pada ikan predator air tawar seperti pikeperch (Sander lucioperca) merupakan proses kompleks yang tidak hanya melibatkan perubahan morfologis dan perilaku, tetapi juga refleksi mendalam dari dinamika molekuler dalam sistem saraf pusat. Penelitian yang dilakukan oleh Radka Symonová dan kolaboratornya menggali secara komprehensif perubahan ekspresi genetik otak pada dua subkohor juvenil pikeperch yang berbeda ukuran, guna memahami mekanisme molekuler yang mendasari transisi trofik tersebut. Studi ini memanfaatkan pendekatan transkriptomik otak untuk membandingkan ekspresi gen, aktivitas transkripsi alternatif, serta peran RNA non-pengode (noncoding RNA/ncRNA) pada individu yang berada dalam fase planktivori dan fase pisvivori.

Pikeperch, sebagai spesies ikan predator utama di berbagai badan air tawar Eropa, memiliki peran ekologis penting dalam mengontrol populasi ikan planktivor. Dalam reservoir Lipno di Ceko, survei jangka panjang terhadap populasi pikeperch muda tahunan (young-of-the-year/YOY) mengungkap keberadaan dua subkohor berbeda yang menandai dimulainya pemisahan nisah trofik. Subkohor pertama terdiri dari individu berukuran lebih kecil yang masih bergantung pada makanan plankton dan hidup di zona pelagik, sedangkan subkohor kedua terdiri dari individu berukuran lebih besar yang telah bertransisi menjadi pemakan ikan (pisvivori) dan hidup di wilayah demersal. Pola distribusi ini tidak hanya menunjukkan diferensiasi ekologi, tetapi juga memberikan indikasi adanya landasan biologis yang mendalam, salah satunya melalui dinamika ekspresi gen di otak.

Melalui analisis transkriptomik, peneliti berhasil mengidentifikasi sebanyak 148 gen yang menunjukkan perbedaan ekspresi signifikan antara subkohor planktivor dan pisvivor. Pengayaan jalur biologis (pathway enrichment analysis) mengindikasikan bahwa individu pisvivor menunjukkan peningkatan ekspresi gen yang berperan dalam pembentukan kolagen dan matriks ekstraseluler. Gen-gen ini berkaitan erat dengan proses neuroplastisitas dan perkembangan struktur jaringan otak yang lebih kompleks, sesuai dengan kebutuhan koordinasi perilaku berburu dan pemrosesan sensorik yang lebih canggih. Di sisi lain, pada individu planktivor ditemukan peningkatan ekspresi gen yang terlibat dalam aktivitas non-myosin otot (non-muscle-myosins/NMM), yang berhubungan dengan pengaturan motorik dan struktur selular yang lebih sederhana, konsisten dengan gaya hidup pelagik dan konsumsi plankton.

Menariknya, analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa beberapa gen yang diekspresikan secara signifikan pada planktivor juga terlibat dalam regulasi nafsu makan. Di antaranya, gen seperti Pmchl, Pomcl, dan Pyyb berada di jaringan perifer dari sistem NMM dan diketahui memiliki peran penting dalam produksi neuropeptida oreksigenik dan anoreksigenik. Fakta ini mendukung hipotesis bahwa dorongan fisiologis yang berkaitan dengan rasa lapar ekstrem (voracity) dapat menjadi pemicu utama transisi dari konsumsi plankton menuju pemangsaan ikan. Artinya, subkohor planktivor bukan hanya berbeda secara morfologis, tetapi juga secara neurofisiologis, dengan tingkat regulasi nafsu makan yang dapat menentukan waktu dan kecenderungan individu untuk beralih ke pisvivori.

Selain perbedaan ekspresi gen, penelitian ini juga mengungkap peran penting transkrip non-pengode, khususnya small nucleolar RNA (snoRNA). Pada subkohor planktivor, tiga transkrip dari snoRNA U85 ditemukan mengalami peningkatan signifikan. SnoRNA diketahui terlibat dalam modifikasi RNA lain, seperti pengubahan rRNA dan pengaruhnya terhadap stabilitas serta translasi mRNA, yang berpotensi besar dalam mengatur ekspresi gen secara tidak langsung. Temuan ini menyoroti bahwa ncRNA tidak bisa diabaikan dalam memahami kompleksitas pengaturan molekuler selama fase transisi trofik, karena keberadaannya dapat mengintervensi berbagai jalur metabolik dan regulasi saraf.

Tidak kalah penting, analisis splice alternatif (alternative splicing) menunjukkan adanya tiga puluh gen yang mengalami perubahan penyusunan ekspon dalam transkrip mereka, meskipun sebagian besar dari gen tersebut tidak berkaitan langsung dengan gen yang berbeda secara ekspresi. Fenomena splice alternatif ini membuka kemungkinan terjadinya diversifikasi fungsi protein yang memungkinkan fleksibilitas fisiologis, meski gen dasarnya tetap sama. Ini memperkuat gagasan bahwa perkembangan otak pada juvenil pikeperch tidak hanya bergantung pada tingkat ekspresi gen, tetapi juga pada cara penyusunan produk transkripsi dalam bentuk akhir yang siap diterjemahkan menjadi protein fungsional. Dari sudut pandang ekologi perkembangan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan ukuran dan pola makan pada juvenil pikeperch mencerminkan bentuk plastisitas perkembangan (developmental plasticity) yang kompleks. Spatiotemporalitas perkembangan juvenil tersebar dalam skala ruang dan waktu yang luas, memungkinkan spesies ini memanfaatkan beragam sumber daya sekaligus menghindari kompetisi intra-spesifik.

Dengan kata lain, kemampuan individu untuk menyesuaikan ekspresi gen, splice transkrip, serta aktivitas RNA non-pengode memberikan fleksibilitas adaptif yang tinggi dalam menghadapi tekanan lingkungan dan ketersediaan makanan.

Sumber:

Symonová, R., Jůza, T., Tesfaye, M., Brabec, M., Bartoň, D., Blabolil, P., Draštík, V., Kočvara, L., Muška, M., Prchalová, M. and Říha, M., 2025. Transition to Piscivory Seen Through Brain Transcriptomics in a Juvenile Percid Fish: Complex Interplay of Differential Gene Transcription, Alternative Splicing, and ncRNA Activity. Journal of Experimental Zoology Part A: Ecological and Integrative Physiology343(2), pp.257-277.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *