MAKASSAR — Peringatan Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap 25 Januari tahun ini akan diwarnai dengan gelaran forum ilmiah berskala nasional bertajuk Indonesian Scientific Forum (ISF) 2026.
Mengusung tema “Precision Nutrition untuk Indonesia 6.0: Personalized Nutrition, National Transformation”, kegiatan virtual ini menyoroti pergeseran paradigma dari pendekatan gizi serba umum menuju nutrisi presisi berbasis nutrigenomik–nutrigenetik, superfood, dan integrasi dengan kedokteran presisi.
Nutrigenomik dan nutrigenetik lahir dari “pernikahan” ilmu gizi dan genetika. Keduanya sama-sama membahas bagaimana makanan dan gen saling memengaruhi, tetapi dari dua arah yang berbeda. Nutrigenetik menyorot mengapa respons orang terhadap diet bisa beda-beda (misalnya ada yang cepat “naik gula” atau lebih sensitif lemak jenuh) karena variasi genetik seperti SNP (Single Nucleotide Polymorphism).
Sementara nutrigenomik melihat bagaimana zat gizi dan senyawa bioaktif dalam makanan bisa “mengatur tombol” di level sel, mengaktifkan atau menekan ekspresi gen yang terkait metabolisme, inflamasi, detoksifikasi, hingga risiko penyakit.
Ketika dua ilmu ini digabung, lahirlah nutrisi presisi. Maksudnya, rekomendasi makan yang lebih personal, bukan sekadar “satu diet untuk semua”. Ke depan, pendekatan ini makin kuat karena ditopang profiling multiomics (genomik, proteomik, metabolomik, transkriptomik) dan platform digital yang mampu memantau respons tubuh secara dinamis. Tantangannya tetap nyata. Interpretasi data yang kompleks, biaya tes dan akses layanan yang belum merata, serta isu privasi dan etika data genetik. Tapi arah besarnya jelas. Diet futuristik menjadi semakin ilmiah, semakin personal, juga semakin berorientasi pencegahan—bukan sekadar mengobati ketika sudah sakit.
Ketua MABBI, Didik Huswo Utomo, Ph.D., mengungkapkan dukungan terhadap ISF 2026. “Forum ISF 2026 ini mendukung program pemerintah di dalam menyehatkan masyarakat, serta sejalan dengan visi dan misi MABBI di dalam upaya mengembangkan dan mengimplementasikan riset nasional,” ujarnya.
Forum ini terselenggara melalui kolaborasi berbagai institusi, termasuk Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Universitas Yarsi, SMA Negeri 3 Semarang, Vascular Indonesia, International Life Institute (ILI), PDPOTJI, AWMI, Global Institute of Technology and Business, Sciencepreneur, AGDOSI, drSlimming.id, DKLPT, Digimedika Kreasi Nusantara, serta sejumlah komunitas dan mitra edukasi lainnya.
Agenda virtual ini akan berlangsung Ahad, 25 Januari 2026 pukul 08.00–12.00 WIB melalui Zoom Meeting dan terbuka gratis untuk publik. Panitia menyebutkan, forum ini diarahkan sebagai ruang dialog akademik untuk menjembatani riset, praktik klinis, dan kebijakan kesehatan—khususnya dalam konteks tantangan gizi Indonesia, termasuk stunting, penyakit tidak menular, hingga kesehatan saluran cerna.
Kegiatan direncanakan dibuka melalui kata sambutan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. dr. Niko Azhari Hidayat, SpBTKV., SubspVE(K)., FIATCVS. (Dosen FTMM Unair Surabaya, Founder–CEO Vascular Indonesia), representasi Unismuh, pihak SMA Negeri 3 Semarang sebagai mitra kolaborator. Sambutan ini menekankan pentingnya ekosistem inovasi dan literasi sains kesehatan di era transformasi digital.
Deretan narasumber yang dijadwalkan mengisi sesi ilmiah berasal dari berbagai pusat keilmuan dan praktik kesehatan. Prof. dr. Veni Hadju, MSc, Ph.D. (Guru Besar FKM Universitas Hasanuddin; alumnus Cornell University, AS) akan memaparkan potensi Moringa oleifera (kelor) sebagai superfood di era digital. Sementara Prof. Dr. Tria Astika Endah Permatasari, S.K.M., M.K.M. (Guru Besar Departemen Gizi, FKIK Universitas Muhammadiyah Jakarta) akan mengulas strategi penanganan stunting dalam lanskap personalized medicine.
Dari perspektif klinis, Prof. Dr. dr. Suryani As’ad., M.Sc., Sp.GK (K) (Dekan FKIK Universitas Muhammadiyah Makassar; Guru Besar Universitas Hasanuddin) akan membahas pendekatan gizi klinik terhadap penerapan nutrisi presisi di Indonesia. Adapun Prof. Dr. Dra. Sunarti, M.Kes. (Guru Besar UGM Yogyakarta) menyoroti peran nutrigenomik dan nutrigenetik sebagai fondasi Indonesia yang lebih tangguh dan kompetitif.
Sesi lain akan diisi dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D. Beliau seorang dosen FKIK Unismuh Makassar; peneliti, reviewer jurnal terindeks Scopus, penulis, kolumnis di berbagai media nasional, pengurus MABBI yang akan menyampaikan topik “The Art of Nutrigenomics 6.0”, yang menempatkan nutrisi presisi bukan sekadar tren, melainkan strategi pembangunan kesehatan berbasis data, perilaku, dan sains biomolekuler. Sementara itu, Dr (Cand.) dr. Inggrid Tania, M.Si. (Ketua Umum PDPOTJI) dijadwalkan menyampaikan materi “Prebiotic Herbs and Spices for Gut Health”, menyoroti peran herbal-rempah prebiotik dalam kesehatan mikrobiota usus.
Panitia juga menyediakan e-sertifikat dan rekaman sesi bagi peserta yang berkenan memberikan donasi sukarela minimal Rp. 25.000. Donasi, menurut penyelenggara, akan dialokasikan untuk mendukung keberlanjutan program edukasi ilmiah di masa mendatang.
Pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan https://bit.ly/ISF2026. Informasi lebih lanjut tersedia melalui narahubung Muhammad Rafif (0857-0565-7697) dan Aditya Liemin (0812-2807-7298). [Rilis resmi ini ditulis oleh A Amanda Faizatul A, Brigivta Zalsaqira Lovly, beserta Tim Panitia ISF 2026]

Leave a Reply